Rabu, 04 April 2018

RESENSI BUKU FIKSI (KUMPULAN PUISI CHAIRIL ANWAR)


Kisah Hidup Chairil Anwar, Si Binatang Jalang
Judul                                      : Aku Ini Binatang Jalang
Pengarang                              : Chairil Anwar
Penerbit                                  : PT Gramedia Pustaka Utama
Desain Sampul                       : Nono S.
Tahun Terbit                         : 2004
Jumlah Halaman                   : 111
ISBN                                       : 978-979-22-7277-2
Ulasan Isi Buku
Buku kumpulan puisi berjudul “Aku ini Binatang Jalang” yang dikarang oleh Chairil Anwar ini merupakan kumpulan puisi sejak tahun 1942 sampai tahun 1949 dengan 80 puisi beserta 2 puisi saduran. Pada tahun 1942, Chairil Anwar memulai dengan puisinya yang berjudul “Nisan” dan yang terakhir pada tahun 1949, Chairil Anwar mengakhiri buku kumpulan puisinya dengan puisi yang berjudul “Aku Berada Kembali”. Namun adapula catatan kecil dari editor yang terdapat pada halaman ix, di halaman tersebut editor  mengulas tentang berbagai karya Chairil Anwar yang memiliki banyak versi. Puisi - puisi yang memiliki banyak versi tersebut antara lain dalam puisi berjudul “Aku” dan “Sajak Putih.”
Dalam menyusun buku ini, editor menyusun puisi – puisinya secara kronologis. Selain itu, dalam buku ini editor juga menambahkan dua buah sajak saduran yang ada pada halaman 107 – 108 dan juga memuat surat – surat pendek Chairil kepada Jassin yang dimuat secara lengkap pada halaman 111 yang inti dari surat-suratnya adalah kemauan Chairil untuk totalitas dalam berkarya sebagai seniman.  Kemudian buku ini ditutup dengan bibliografi mengenai Chairil Anwar dan karyanya serta biografi Chairil Anwar.

Unsur yang Membangun Puisi
STRUKTUR FISIK
a.              Tipografi
Tipografi merupakan bentuk fisik atau penyusunan baris-baris dalam puisi. Peranan tipografi dalam puisi adalah untuk menampilkan aspek artistik visual dan untuk menciptakan nuansa makna tertentu. Selain itu, tipografi juga berperan untuk menunjukan adanya loncatan gagasan serta memperjelas adanya satuan-satuan makna tertentu yang ingin dikemukakan penyair.
Chairil Anwar pun menulis puisi ini dengan konsisten. Yaitu dengan menempatkan huruf kapital pada setiap baris dalam puisi.
b.              Diksi (Pemilihan Kata)
Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata.
Secara umum, ciri khas dari keseluruhan puisi karya Chairil Anwar ini, tampak pada kata – kata yang merangkai puisi tersebut. Kata – kata yang digunakan umumnya kata – kata yang lugas, tidak bertele – tele, dan dekat dengan bahasa lisan serta dapat menimbulkan imajinasi. Contoh kata – kata yang lugas, tidak bertele – tele dan dekat dengan bahasa lisan misalnya adalah pada puisi yang berjudul “Kesabaran.” Dalam puisi tersebut Chairil Anwar memilih kata – kata ‘ngomong’ dan ‘nggonggong’ pada bait kedua. Jika dilihat dalam segi struktur kata, ‘ngomong’ dan ‘nggonggong’ merupakan kata – kata yang berstruktur tidak beraturan. Seperti kata ‘nggonggong’ biasanya menggunakan kata ‘menggonggong.’ Namun disini Chairil menggunakan kata ‘nggonggong.’ Secara eksplisit kata tersebut termasuk kata lugas dan merupakan kata yang terdapat dalam bahasa lisan, yakni kata yang sering diucapkan namun jarang dituliskan. Selain itu kata ‘nggonggong’ dipilih sebagai kata yang memiliki unsur orisinalitas atau private symbol sehingga menghasilkan kekuatan dalam puisi atau dapat dikatakan bahwa kata tersebut memiliki nilai rasa yang lebih baik dalam hal pengucapan puisi tersebut.
c.              Pengimajian
Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, medengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.
Dalam puisi-puisinya, Chairil Anwar tidak memunculkan teknik imaji yang dominan. Hanya saja dengan kelebihannya, Chairil Anwar masih saja mampu membuat pembaca merasakan apa yang ia rasakan.
d.             Kata Kongkret
Kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misal kata kongkret “salju: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll., sedangkan kata kongkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dll.
Dalam setiap penulisan puisinya, Chairil Anwar selalu memunculkan kata konkret sebagai ciri khasnya.
e.              Gaya Bahasa
Penyair menggunakan bahasa yang bersusun-susun atau berpigura sehingga disebut bahasa figuratif. Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna. Bahasa figuratif ialah bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yakni secara tidak langsung mengungkapkan makna. Kata atau bahasanya bermakna kias atau makna lambang.


f.               Rima dan Irama
Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Sedangkan irama adalah lagu kalimat yang digunakan penyair dalam mengapresiasikan puisinya. Puisi Chairil Anwar memiliki rima yang konsisten. Sedangkan irama yang digunakan menggunakan irama yang menunjukkan keteguhan hati penyair dalam mempertahankan prinsipnya meski ia telah memberi kesempatan. Irama yang dihasilkan terkesan biasa saja karena susuanan kata pada tiap barisnya sendiri tersusun dari kata-kata yang sederhana. Dalam puisi karya-karya Chairil Anwar, irama sudah diciptakan secara kreatif artinya tidak hanya berupa pemotongan baris-baris puisi menjadi dua frasa, namun dapat berupa pengulangan kata-kata tertentu untuk mengikat beberapa baris puisi.

STRUKTUR BATIN
a.       Tema
 Media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan. Dalam kumpulan puisi Chairil Anwar, sebagian puisinya berkisah tentang pengalaman pribadinya, percintaan dengan kekasihnya, dan perenungan – perenungan eksistensialnya tentang kehidupan, ibu, pemberontakan, individualisme,  dan terlebih lagi tentang kematian.
b.      Rasa
Rasa merupakan salah satu unsur isi yang dapat mengungkapkan sikap penyair pada pokok persoalan puisi. Puisi Chairil Anwar merupakan eskpresi jiwa penyair yang menginginkan kebebasan dari semua ikatan.
c.       Nada
Nada merupakan unsur isi yang menggambarkan sikap penyair kepada pembacanya. Puisi Chairil menunjukkan betapa tidak pedulinya Chairil dengan semua orang yang pernah mendengar atau pun membaca puisinya, entah itu baik, atau pun buruk. Disamping Chairil ingin menunjukkan ketidakpeduliannya kepada pembaca, dalam puisinya juga terdapat pesan lain dari Chairil, bahwa manusia itu adalah makhluk yang tak pernah lepas dari salah. Oleh karena itu, janganlah memandang seseorang dari baik-buruknya saja, karena kedua hal itu pasti akan ditemui dalam setiap manusia. Selain itu, Chairil juga ingin menyampaikan agar pembaca tidak perlu ragu dalam berkarya. Berkaryalah dan biarkan orang lain menilainya, seperti apa pun bentuk penilaian itu.
Ulasan Buku Mengenai Pengalaman Kebahasaan, Inderaan, dan Nalaran
Chairil Anwar tidak seperti Rendra maupun Taufiq yang puisinya banyak menyampaikan kritik sosial dan mengkritisi rezim penguasa. Chairil Anwar lebih sering berkisah tentang keping – keping pengalaman hidup pribadi yang dihayatinya. Selain itu, hampir semua puisi karya Chairil Anwar juga merujuk pada kematian.
Contoh Puisi Chairil Anwar yang merupakan puisi tentang kisah percintaan dia dengan kekasihnya yaitu puisi “Senja di Pelabuhan kecil”, Chairil biasanya orang yang tegar dan selalu optimis dalam segala hal tetapi puisi ini dia merasa pesimis karena cintanya sudah kandas. Sehingga puisi ini seakan-akan menjadi melankonis karena sajaknya berisi tentang ratapan dan kesedihan Chairil Anwar dalam memikirkan nasib yang benar-benar tidak bisa dirubah. Tetapi emosi Chairil yang menguasai puisi ini, menyebabkan sajaknya tidak terlalu terlihat sedih.
Hal ini berbeda dengan puisi Chairil yang menunjukkan ketegaran dan kekuatan Chairil. Seperti yang tergambar dalam puisinya yang berjudul “ Aku”. Penyair menulis puisi ini karena penyair ingin menunjukkan keindividualan. Chairil membawa semangat lewat puisi tersebut karena pada saat itu orang Indonsia belum ada yang meng-akukan dirinya. Pada salah satu bait dalam puisi tersebut terdapat kesadaran peran penyair dalam hidupnya yang mengharuskan adanya tindakan agar tidak terpengaruh oleh orang lain. Chairil berpikiran bahwa pengaruh orang lain dapat membuat dirinya kehilangan kemerdekaannya.
Ulasan Mengenai Kelebihan dan Kekurangan Buku
Warna sampul buku sesuai dengan ciri-ciri Chairil Anwar yang suka berkarya tentang kematian dan kegelapan. Chairil juga mati muda, seolah-olah dia tahu dia tak hidup lama. Jadi, penggunaan warna huruf merah dan hitam, sampul buku abu-abu dan ilustrasi wajah Chairil di tengah-tengah memberi makna yang sesuai untuk menarik perhatian pembaca.
Jenis kertas yang tebal juga jenis huruf yang pas membuat pembaca nyaman. Terdapat footnote pada sajak-sajak. Sajak juga disusun dengan baik, jarak antara tulisan juga tak mengundang gangguan sekalipun ukuran huruf kecil.
Apa yang menarik tentang buku ini ialah surat karangan Chairil kepada sahabatnya. Walaupun sekedar surat, penggunaan surat tersebut sangat puitis dan bisa dibilang sebagai sajak walaupun Chairil menyebut dalam suratnya "masih beberapa tingkat percobaan musti dilalui dulu, baru terhasilnya sajak-sajak sebenarnya."
Buku ini mengandung banyak frasa inspirasi, perincian dari Chairil yang menarik perhatian penulis luar untuk mengkaji dan menerbitkan semula karyanya dalam bahasa yang berbeda.
Penutup
Nilai-nilai yang terkandung dalam buku kumpulan puisi Chairil Anwar yaitu:
·         Nilai ekonomi adalah kita harus berusaha mencari nafkah dan pekerjaan yang lebih baik.
·         Nilai sosial adalah kita sesama manusia harus saling membantu dan tolong menolong.
·         Nilai politik adalah kita sebagai penerus bangsa harus menjadi orang yang memiliki kehidupan yang lebih baik untuk dirisendiri, Negara, dan bangsa.
·         Nilai agama adalah kita sebagai umat islam harus selalu berusaha dengan segenap kemampuan sebagaimana yang telah dianjurkan oleh Allah SWT
·         Nilai budaya adalah kita sebagai generasi penerus harus melestarikan kebiasaan yang baik dan menjauhi kebiasaan yang buruk.
·         Nilai pendidikan adalah kita sebagai penerus bangsa harus berusaha dalam belajar agar mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan berkecukupan.
Aku Ini Binatang Jalang merupakan kumpulan puisi-puisi dari pujangga era 45 yaitu Chairil Anwar. Puisi – puisi yang berada di sini kebanyakan berisikan semangat untuk tetap mencintai Indonesia dan tetap berjuang demi Indonesia. Buku ini sangat cocok bagi nasionalis yang ingin mengetahui pandangan era 45 melalui sisi pandang seorang pujangga seperti Chairil Anwar. Buku ini juga sangat wajib punya untuk orang-orang yang mencintai sastra.

1 komentar:

Komentar yang baik ya