1.
·
Pertanyaan
1
Kiamat terbagi menjadi
dua yakni besar dan kecil. Menurut kalian apakah yang dapat dilakukan ketika
menyikapi kiamat kecil di sekitar kita? Contohnya saja kematian.
·
Jawaban
1
Kematian adalah kepastian. Betapa
banyak berita kematian yang sampai di telinga kita, mungkin mengkabarkan bahwa
tetangga kita, kerabat kita, saudara kita atau teman kita telah meninggal
dunia, menghadap Allah Ta’ala. Akan tetapi betapa sedikit dari diri kita yang
mampu mengambil pelajaran dari kenyataan tersebut. Kita tidak memungkiri bahwa
datangnya kematian itu adalah pasti. Tidak ada manusia yang hidup abadi.
Realita telah membuktikannya. Allah Ta’ala telah berfirman.
Dan hal yang dapat kita
lakukan dalam menyikapi hal tersebut adalah :
1.Bersegera dalam
bertaubat
Sudah dapat dipastikan
bahwa manusia adalah makhluk yang banyak dosa dan kemaksiatan. Seorang manusia
yang banyak mengingat kematian, dirinya sadar bahwa kematian senantiasa
mengintai. Dia tidak ingin menghadap Allah Ta’ala dengan membawa setumpuk dosa
yang akan mendatangkan kemurkaan Allah Ta’ala. Dia akan sesegera mungkin
bertaubat atas dosa dan kesalahannya, kembali kepada Allah Ta’ala. Allah telah
berfirman,
“Sesungguhnya taubat di
sisi Allah hanyalah bagi orang-orang yang mengerjakan keburukan dikarenakan
kebodohannya, kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang
diterima taubatnya oleh Allah, dan Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana”
(QS. An Nisa : 17)
Maksud dari berbuat
keburukan karena kebodohan dalam ayat di atas, bukanlah kebodohan seorang yang
tidak mengetahui sama sekali bahwa apa yang dia kerjakan merupakan sebuah
keburukan. Orang yang berbuat buruk dan tidak mengetahui sama sekali tidak akan
dihukum oleh Allah. Akan tetapi yang dimaksud kebodohan di sini adalah
seseorang yang mengetahui bahwa apa yang dia lakukan adalah keburukan, namun
dia tetap saja melakukannya lantaran dirinya dikuasai oleh hawa nafsu. Inilah
makna kebodohan dalam ayat di atas.
2.Giat dan semangat
dalam beribadah kepada Allah
Seorang yang banyak
mengingat kematian, akan senantiasa memanfaatkan waktunya untuk beribadah
kepada Allah Ta’ala. Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda kepada Abdullah Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, “Jadilah engkau di
dunia ini bagaikan seorang yang asing atau seorang yang sedang menempuh
perjalanan yang jauh”, mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
ini, lantas Abdullah ibnu Umar berkata, “Jika engkau berada di sore hari jangan
engkau tunggu datangnya pagi hari, jika engkau berada di pagi hari jangan engkau
tunggu datangnya sore hari, pergunakanlah waktu sehatmu (dalam ketaatan kepada
Allah) sebelum datangnya waktu sakitmu, dan pergunakanlah waktu hidupmu sebelum
kematian datang menjemputmu.” (HR. Bukhari)
3.Rasa qana’ah di dalam
hati
Allah Ta’ala akan menanamkan
rasa qana’ah di dalam hati seseorang yang banyak mengingat kematian. Rasa
qana’ah yang membuat seseorang merasa cukup terhadap setiap pemberian Allah
Ta’ala, bagaimanapun dan berapapun pemberian Allah.
Seseorang yang banyak
mengingat kematian, meyakini bahwa segala pemberian Allah dari perbendaharaan
dunia adalah titipan dari Allah. Seluruhnya akan diambil kembali oleh Allah,
dan akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Ta’ala atas seluruh pemberian
tersebut.
·
Pertanyaan
2
Selanjutnya, saat kiamat
dikatakan bahwa orang-orang kafir masih hidup. Kemudian juga dikatakan
datangnya Imam Mahdi maupun Nabi Isa as. Dalam jangka waktu tersebut saya
mendengar adanya waktu tenang. Lantas bagaimanakah nasib orang yang masih hidup
pada waktu tenang tersebut ketika agamanya sudah diluruskan oleh nabi Isa?
Apakah taubatnya diterima?
·
Jawaban
2
Pertama, harus
diketahui dulu apa itu masa tenang. Masa aman/tenang ini mulai terjadi di akhir
masa kehidupan Nabi Isa dan Imam Mahdi, yaitu setelah Nabi Isa menghancurkan salib,
membunuh babi, menolak upeti dan melimpahkan harta sehingga tidak seorangpun
yang mau menerima pemberian (hibah). Kemudian Nabi Isa memadamkan segala sebab
peperangan, dan manusia akan hidup dalam suatu masa yang belum pernah dirasakan
sebelumnya. Maka terhapuslah rasa iri, dengki dan permusuhan, setiap binatang
berbisa tidak lagi berbisa, hingga seorang anak yang memasukkan tangannya ke
mulut ular akan merasa aman, serigala yang bersama domba tidak akan menerkam,
binatang buas seperti singa dan lainnya akan menjadi jinak, bumi akan
menebarkan keberkahan dan menurunkan kebaikannya.
Lantas pada saat itu
apakah masih diterima taubat dari seorang hamba-Nya? Jawabannya adalah masih.
Mengapa? Menurut firman Allah dalam Q.S Al An’am : 158
يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ
رَبِّكَ لا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ
فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا
“Pada hari datangnya
sebagian tanda-tanda Tuhanmu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi
dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan
kebaikan dalam masa imannya” [QS. Al-An’am : 158].
Ini menunjukkan bahwa
pintu-pintu taubat masih dibuka hingga datangnya salah satu tanda-tanda
datangnya kiamat besar yaitu terbitnya matahari dari barat seperti hadist
rasulullah yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Rasulullah tidak
menjelaskan tentang urut-urutan datangnya hari kiamat secara mendetail tapi
beliau memberi penggambaran yang cukup jelas bahwa tertutupnya pintu taubat itu
terjadi sesaat setelah matahari terbit dari barat. Sehingga pada saat
kedatangan nabi Isa as dan Imam Mahdi (pada masa-masa tenang) masih belum
terjadi salah satu tanda-tanda kiamat besar berupa terbitnya matahari dari
barat dan pintu taubat masih dibuka bagi para mukmin yang ingin bertaubat.
2.
·
Pertanyaan
Bagaimanakah proses
kemunculan dajjal? Dan kiranya apa saja hal yang menyangkut datangnya dajjal
tersebut?
·
Jawaban
Dajjal diyakini
merupakan seorang manusia yang sudah hidup sejak zaman nabi Ibrahim dan karena
Allah menangguhkan ajalnya (seperti halnya Iblis) ia tetap masih hidup hingga
saat ini, dipenjarakan di sebuah tempat yang masih menjadi misteri.
Dalam beberapa hadist
dijelaskan bahwa asal usul dajjal adalah seorang keturunan Yahudi.Ia lahir dari
orang tua yang postur tubuhnya tinggi gemuk dengan hidung sangat mancung
menyerupai paruh burung. Secara lebih lengkap, Imam Al Barzanji juga pernah
menyebut jika asal usul moyang dajjal adalah seorang dukun Yahudi (Syaqq) yang
kawin dengan wanita dari keturunan jin. Moyang dajjal ini hidup di zaman Nabi
Sulaiman AS. Oleh nabi Sulaiman, si moyang dajjal dan istrinya yang berasal
dari golongan jin disebutkan sempat dipenjarakan dan ditangkap karena ulahnya
dalam merusak akidah umat. Adapun terlepas dari pendapat Imam Al-Barzanji
tersebut, asal usul dajjal hingga kini tetap saja masih misterius, mengingat
sumber referensi dan hadist yang membahas hal ini memang sangat terbatas.
Ciri-ciri dajjal dalam
sebuah hadist sahih yang diriwayatkan oleh Muslim menyebut bahwa Rasulullah
pernah bersabda jika dajjal merupakan orang yang memiliki ciri-ciri mata
kirinya buta, rambutnya lebat dan keriting, tampak selalu awet muda, badannya
besar agak kemerahan sehingga jika dilihat dari belakang ia seolah-olah tampak
seperti dahan kayu yang rimbun. Sedangkan dalam hadist At-Tabrani, ciri-ciri
dajjal yang paling kentara disebutkan terletak pada mata dan dahinya. Mata kiri
dajjal buta, sedangkan mata kanannya tertonjol keluar, berwarna kehijauan, dan
berkelip-kelip laksana bintang gemintang. Adapun pada dahi dajjal juga terdapat
susunan huruf Kaf-Fa-Ro yang jika di sambung akan membentuk kata “Kafir”.
Tulisan pada dahi dajjal ini hanya dapat dilihat dan dibaca oleh orang-orang
yang memang benar-benar murni keislamannya. Dajjal tidak akan pernah bisa lepas
dari penjara yang ada karena selain dirantai, ia juga dijaga oleh seekor
binatang besar bernama Al-Jassasah. Ia baru akan lepas dari penjara dan keluar
dari pulau tersebut jika Allah sudah menghendakinya. Dajjal akan bebas pada
sebuah masa yang sudah sangat dekat dengan kehadiran hari akhir yang
dijanjikan. Karena pulau yang disebutkan menjadi penjara dajjal berada di
belahan timur bumi (beberapa versi menyebutkan pulau tersebut terletak di
sekitar India), maka dajjal pun akan muncul dari timur. Ia diizinkan oleh Allah
untuk keluar dan menjelajah sekeliling dunia dan menyebarkan fitnah dan
ajarannya. Ia akan melakukan tipu daya pada orang-orang yang hidup di zaman itu
sehingga mereka mengakui bahwa dirinya adalah Tuhan. Orang yang kuat imannya
akan berani menentang ajaran tersebut meski nyawanya dipertaruhkan, sedangkan
bagi orang yang imannya lemah, ia akan menurut dan menjadi pendukung dan hamba
dajjal. Dajjal dibekali dengan kekuatan yang luar biasa besar oleh Allah. Segala
kesenangan hidup akan dikaruniakan kepadanya. Seluruh mahluk langit dan bumi
akan tunduk pada perintahnya. Adapun dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa
sebelum kemunculan dajjal, manusia akan diuji dengan kemarau panjang selama 3
tahun berturut-turut. Kemarau ini membuat bahan pangan menjadi sangat langka
sehingga musibah kelaparan merajalela di mana-mana. Di saat manusia tengah
kelaparan dan membutuhkan pertolongan inilah, asal usul dajjal datang dengan
membawa fitnahnya. Dajjal akan menunjukan kesaktiannya. Ia akan mendatangkan
hujan dengan mudahnya. Ia akan menumbuhkan berbagai tanaman sebagai sumber
makanan bagi para hambanya yang mengakui bahwa dirinya adalah Tuhan semesta
alam. Mereka tetap tak akan mau mengakui dajjal sebagai Tuhannya hingga khusnul
khotimah menjemput. Fitnah asal usul dajjal akan terus berlanjut pada masa 40
hari setelah kemunculannya pertama kali. Ia akan terus menguji keimanan manusia
di akhir zaman hingga pemisah antara umat Islam sejati dan umat yang kafir
benar-benar terlihat jelas.